Bahan Tambahan Makanan digunakan untuk menjaga kualitas, tekstur, konsistensi, rasa, warna, alkalinitas atau keasaman makanan. Setiap hari manusia terpapar bahan kimia tersebut pada makanan yang dikonsumsi. Monosodium glutamat (MSG) adalah Bahan Tambahan Makanan yang banyak digunakan sebagai penambah rasa banyak makanan seperti daging, unggas, makanan laut, makanan ringan, sup dan semur (Fuke dan Shimizu, 1993). MSG adalah bentuk garam natrium dari glutamat asam amino dan memiliki fungsi penyedap alami yang mirip dengan glutamat bebas di makanan (Yamaguchi dan Ninomiya, 2000). Glutamat adalah komponen utama dari sebagian besar makanan yang mengandung protein alami seperti daging, ikan, susu dan beberapa sayuran dan memainkan peran penting dalam metabolisme tubuh manusia (Filer dan Stegink, 1994; Fernstorm dan Garattini, 2000; Freeman, 2006).
MSG dihasilkan melalui proses fermentasi molasses dari gula tebu, gula bit,pati dan gula jagung. Perubahan glutamat yang terikat secara alami menjadi berbagai bentuk glutamat bebas menyebabkan terbentuknya kristal putih bubuk, menjadi bentuk bebas, yang meningkatkan efek rasa dalam makanan (FSANZ, 2003). Rasa yang khas ini dikenal sebagai "Umami", sebuah istilah yang diciptakan oleh Jepang untuk menggambarkan rasa yang diberikan oleh glutamat.
Orang Barat sering menggambarkan rasa ini sebagai gurih yaitu rasa yang diperoleh dari kaldu (Fuke dan Shimizu, 1993). Konsentrasi optimal palatabilitas untuk MSG adalah antara 0,2 dan 0,8% dengan dosis terbesar yang memberikan rasa enak bagi manusia menjadi sekitar 60 mg / kg berat badan (Yang et al., 1997). Sejak tahun 1960, MSG telah menjadi pilihan utama terhadap penggunaannya sebagai penambah rasa. Banyak yang mengklaim bahwa MSG menimbulkan efek yang merugikan terhadap kesehatan.
Tingginya konsumsi MSG, telah menyebabkan deskripsi dari berbagai ketidaknyamanan yang dijelaskan oleh beberapa orang non-oriental setelah makan di sebuah restoran Cina sebagai "Chinese restaurant syndrome "(misalnya sesak pada dada atau kesulitan bernafas) setelah konsumsi Makanan Cina (Morselli dan Garattini, 1970). Ada laporan yang cukup tentang berbagai efek samping atau asupan MSG sebagai Bahan Tambahan Makanan (Stevenson, 2000; Hermanussen et al., 2006; Ortiz et al., 2006; Farombi dan Onyema, 2006; Paulovic dan Cekic, 2006). Belum ada pernyataan yang menyebutkan bahwa MSG bisa menjadi racun bagi manusia. Dengan semua kontroversi seputar keamanannya, MSG masih dikonsumsi dalam jumlah besar pada makanan cepat saji dan kemasan. Sehinnga penting untuk dilakukan penilaian keamanan dari Bahan Tambahan Makanan ini.
Isu mengenai MSG yang dikabarkan dapat menyebabkan obesitas (kegemukan) pun dipatahkan oleh hasil penelitian. Kondoh dan Tori (2008) menyatakan bahwa konsumsi air minum dengan kadar MSG 1% dapat mengurangi bobot lemak pada perut tikus dan pengurangan berat badan secara signifikan. Penelitian oleh Shi et al (2012) juga menyatakan bahwa kelebihan berat badan disebabkan oleh berbagai faktor, seperti usia, wilayah tinggal, pekerjaan yang panjang, aktivitas fisik dan asupan makanan. Jadi, tidak ada hubungan yang signifikan antara kelebihan berat badan dengan konsumsi MSG.
Dari segi legislasi, Food Drug Administration (FDA*) mengkategorikan MSG sebagai bahan tambahan pangan dengan kategori GRASS (Generally Recognized as Safe) pada tahun 1958 bersama dengan garam, cuka, dan baking powder. Bisa dikatakan, MSG sama tingkat keamanannya dengan garam, cuka, ataupun baking powder. JECFA* juga menyatakan bahwa batas konsumsi harian seseorang terhadap glutamat, baik dalam bentuk asam ataupun garam (MSG), adalah ADI* not specified (artinya, tidak ada batasan khusus dalam konsumsi MSG, kita dapat menggunakan secukupnya). Penetapan GRASS dan ADI not specified pada MSG tentunya bukan berdasarkan perkiraan semata. Dilakukan berbagai penelitian-penelitian yang tidak sederhana untuk menetapkannya.
Perlu digarisbawahi, semua efek samping atau dampak buruk dari konsumsi MSG secara berlebihan tersebut memang masih perlu diteliti lebih lanjut. Namun, semua yang dikonsumsi secara berlebihan memang tidak baik. Jadi, tidak ada salahnya untuk membatasi konsumsi MSG untuk meminimalkan risiko terjadinya gangguan kesehatan. Ada beberapa pilihan yang dapat digunakan sebagai pengganti MSG. Penambahan kaldu sapi, kecap, aneka herba dan garam adalah beberapa alternatif sebagai pengganti MSG yang lebih aman dan kecil resikonya untuk menimbulkan alergi. Marilah kita lebih bijak sebagai konsumen dalam memilih apa saja yang kita konsumsi untuk menjaga kesehatan kita apalagi di masa pandemi saat ini. Mari kita jaga iman dan imun supaya kita aman.
Komentar
Posting Komentar